Rabu, 07 Juli 2010

PENGOBATAN RASIONAL


PENGOBATAN RASIONAL

oleh : Dr. Evita Setianingrum.

Pengobatan Rasional mensyaratkan bahwa " Pasien menerima pengobatan sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan individu mereka sendiri, untuk jangka waktu yang memadai, dan biaya terendah untuk mereka dan komunitas mereka"


Pengantar

Pelayanan kesehatan kepada masyarakat pada umumnya disertai dengan pelayanan obat yang harus digunakan oleh pasien. Untuk mencapai hasil yang efektif,pelayanan kesehatan harus menggunakan prinsip-prinsip pengobatan yang rasional.


Kriteria Pengobatan Rasional:

  1. Pemilihan obat yang tepat
  2. Indikasi yang tepat : peresepan berdasarkan pertimbangan medis, sesuai dengan diagnosa.
  3. Obat yang tepat,dengan mempertimbangkan khasiat, keamanan, kecocokan dengan pasien dan biaya.
  4. Dosis yang tepat,meliputi cara pakai dan lama pengobatan
  5. Sesuai dengan kondisi pasien,dalam arti tidak ada kontra indikasi dan efek samping minimal.
  6. Pemberian obat dengan benar,termasuk informasi kepada pasien tentang penggunaan obat.
  7. Ketaatan pasien kepada pengobatan


Pemakaian obat yang tidak rasional akan menimbulkan dampak antara lain:

    • Dampak terhadap mutu pengobatan dan pelayanan kesehatan (terjadinya resistensi obat,dsb)
    • Dampak terhadap biaya pelayanan pengobatan
    • Dampak terhadap kemungkinan efek samping obat
    • Dampak psikososial , yaitu adanya ketergantungan pasien terhadap suatu obat atau dokter yang dapat memberikan obat sesuai yang di inginkan pasien.


Faktor-faktor penyebab penggunaan obat yang tidak Rasional:

  • Kelemahan dalam bekal pengetahuan dan ketrampilan mengenai penggunaan obat
  • Rasa ketidak amanan dan ketidakpastian diagnostik maupun prognostik
  • Sistem suplai obat yang tidak efisien
  • Tekanan dan permintaan pasien
  • Keterikatan kerjasama dokter dengan pabrik obat tertentu


Sebagai gambaran kami informasikan penggunaan obat menurut standar WHO :


No

Pemantauan pola peresepan

Standar WHO

1

Antibiotik pada ISPA

15%

2

Pemakaian Kortikosteroid pada ISPA

0%

3

Antibiotik pada Diare

5 – 10 %

4

Penggunaan oralit pada Diare

100%

5

Penggunaan Antibiotik total <>

0%

6

Jumlah jenis obat untuk 1 diagnosa

≤ 3


Informasi di atas mungkin sedikit mengingatkan kita para praktisi kesehatan untuk mereview apakah pola peresepan kita sudah sesuai standar WHO atau belum, yang berarti pula bahwa pola peresepan kita sudah rasional atau belum.

Masalah yang paling mengemuka saat ini terkait dengan pengobatan rasional adalah tentang Penggunaan Antibiotika yang tidak Rasional.

Ini di dasarkan pada kenyataan bahwa :

  • tingginya penggunaan antibiotika untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh virus ( contoh penggunaan antibiotik pada ISPA atau biasa disebut Commond Cold (dalam bahasa awam Flu )
  • penggunaan antibiotika spektrum luas ( broad-spectrum) secara berlebihan
  • meningkatnya resistensi bakteri terhadap berbagai antibiotika
  • meningkatnya kejadian efek samping akibat penggunaan antibiotika
  • meningkatnya biaya pelayanan kesehatan secara signifikan,mengingat biaya untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten sangat tinggi dan jauh lebih tinggi daripada biaya untuk penanganan infeksi oleh bakteri yang sensitif terhadap antibiotika.


Dari studi yang dilakukan oleh Bagian Farmakologi FK UGM bekerjasama dengan Pokja Pengelolaan dan Penggunaan Obat ditjen POM, ditemukan berbagai penggunaan antibiotik yang jauh dari ideal. Hampir semua penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut ) non pneumonia (92-98%), baik dewasa maupun balita mendapatkan paling tidak 1 macam antibiotik, baik di puskesmas maupun praktek swasta. Penggunaan antibiotik pada kasus ISPA mencapai 82-89%. Hal ini menunjukan bahwa antibiotik telah keliru diberikan kepada mereka yang justru tidak memerlukannya.


Bentuk ketidak rasionalan penggunaan antibiotik sebetulnya cukup beragam, mulai dari ketidaktepatan dalam pemilihan jenis antibiotik hingga cara dan lama pemberiannya. Banyak alasan yang dikemukakan terkait dengan penggunaan antibiotik yang sebagian besar dokter praktek swasta hanya memberikan selama 3 hari,alasan yang paling klasik adalah masalah biaya yang dibebankan kepada pasien. Dengan jumlah antibiotik yang banyak, tentu biaya akan bertambah, namun apabila pasien resisten, bukankah biaya yang ditanggung akan lebih besar? sayangnya banyak dokter yang hanya berpikir jangka pendek saja, tidak mau tahu dengan dampak yang ditimbulkannya di kemudian hari.


Strategi untuk meningkatkan mutu penggunaan obat yang rasional :

Ada berbagai upaya yang dapat ditempuh dalam rangka pengendalian penggunaan obat secara rasional, antara lain melalui pendekatan manajerial, operasional, maupun pendidikan.

  • Upaya manajerial mencakup kebijakan oleh para Stake holder, dalam menentukan sistem penggunaan obat secara rasional,pemantauan,dan memberikan feedback berupa ketidakrasionalan pola peresepan.

  • Pendekatan manajerial operasional yaitu dengan dibuat Standar Pedoman Pengobatan di setiap Pusat layanan Kesehatan,baik Rumahsakit maupun Puskesmas yang harus disepakati dan dilaksanakan olah seluruh praktisi kesehatan.
  • Pendidikan yaitu dengan cara Studi kasus,dengan mendatangkan nara sumber ataupun studi tentang pengobatan terbaru baik di Seminar,Workshop maupun pertemuan ilmiah lainnya.


Kami berikan contoh penerapan strategi untuk meningkatkan maupun menjaga mutu penggunaan obat yang rasional,yang kami sebut sebagai Pengawasan Pengobatan Rasional dengan sistem Monitoring,Training, Planning.(selanjutnya disebut kegiatan MTP)

Strategi ini sudah dilaksanakan di dinas kesehatan sleman sejak tahun 2003, dan sampai saat ini masih berlanjut.

Kegiatan ini dilaksanakan 1 bulan sekali,biasanya pada akhir bulan,dengan asumsi pada setiap akhir bulan kita sudah bisa melihat trend pola peresepan pada bulan berjalan.

Caranya adalah :

  1. MONITORING yaitu kita melihat resep yang dibuat pada bulan yang akan kita nilai misalnya januari,kemudian dari pola peresepan tersebut,kita angkat 1 topik permasalahan yang menonjol,misalnya penggunaan Antibiotik pada ISPA
  2. kita ambil sample resep dengan diagnosa ISPA,kemudian kita hitung dari seluruh resep yang menggunakan antibiotik ada berapa persen.
  3. TRAINING yaitu kita sosialisasikan temuan ini kepada teman sejawat dalam forum diskusi kelompok,dan kita bahas bersama tentunya dengan mengacu pada referensi yang ada,sekaligus kita sosialisasikan acuan atau pedoman pengobatan yang sudah baku ,terbaru dan berdasarkan Evidence base,
  4. PLANNING yaitu kita buat kesepakatan untuk target pencapaian pada bulan berikutnya,yang tentunya menuju perbaikan,dan kesepakatan waktu diskusi kelompok pada bulan berikutnya.
  5. Akhir bulan berikutnya,yaitu Februari,kita kembali menilai pola peresepan dengan topik yang sama sebagai evaluasi dari hasil kesepakatan sebelumnya,apakah trend nya meningkat atau menurun.
  6. Kita lakukan diskusi lagi,dan kesepakatan lagi.Untuk 1 topik kita lakukan 3 kali pertemuan atau 3 siklus dan tidak lebih untuk menghindarkan kejenuhan.
  7. Setelah 3 siklus kita angkat topik yang lain.begitu seterusnya,secara terus menerus dan berkesinambungan kita melakukan pengawasan terhadap pola peresepan ini,karena pada dasarnya,manusia akan mudah lupa dan lalai apabila tidak di ingatkan secara terus menerus.

Saya berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman sejawat untuk mereview apakah pola peresepan kita selama ini sudah rasional,mungkin hal yang sangat sepele yang kita bahas disini,namun akan sangat berguna bagi dunia kesehatan di negara kita.



Salam ...........

(Dr. Evita Setianingrum)